REQUIESCAT
IN PACE
Sr.
Maria Immaculata Buettner, O’Carm.
(03
Januari 1934-07Agustus 2016)
“Bahagia
terikat pada Yahwe, harapanku pada Allah Tuhanku”
In
Memmoriam
Sr.
Immaculata Buetnner, O. Carm.
Tempat/Tgl. Lahir : Hirschfeld Ludwegsstade
Barmberg, 03 Januari 1934
Masuk Biara : 19 April 1951
Novisiat : 22 April
1953
Profesi Kekal : 21 April 1953
Tiba di Indonesia : 18 Maret 1962
Tiba di Biara : 22 Maret 1962
Wafat : 07
Agustus 2016
Tugas-tugas dalam Biara
Rubiah Karmel “Flos Carmeli”
1962 – 1965 : Prorin, Prokuratriks, Sakrista
1965 – 1971 : Prorin dan Pembimbing Yunioran
1971 – 1977 : Subpriorin, Pembimbing Novis, Pembimbing
Yunioran
1977 – 1983 : Dewan Penasihat & Pemb. Novis
1983 – 1986 : Pembimbing Yunioran
1986 – 1990 : Priorin
1996 – 2002 : Dewan Penasihat & Prokuratrisk
2005 – 2008 : Dewan Penasihat
Sr. Emmaculata Buettner lahir di desa kecil, di ujung negara bagian Bayern, Jerman. Beliau adalah anak pertama dari lima bersaudara, yang semuanya perempuan. Lahir dari pasangan Johann Buettner dan Kunigunda Wicklein. Waktu kelas VII, ditanya oleh Suster-suster “ Maria Ward” ( Englische Fraeulein), apakah mau menjadi suster. Pertanyaan yang diajukan para Suster ini membuatnya berpikir; dan memang adakeinginan untuk menjadi biarawati Akhirnya, kedua orang tuanya tidak keberatan. Sejak waktu itu, Beliau “yakin” bahwa sebagai calon Konggregasi itu. Pertengahan thn. 1947 seorang teman kelasnya waktu beristirahat bercerita penuh semangat: “Di Scluesselau, desa tidak terlalu jauh dari Bamberg, ada biara baru. Susternya tidak boleh keluar dan seterusnya....dst. Semula Beliau tenang-tenang saja karena sudah ada pilihan. Tetapi lama-lama Beliau tidak tenang, karena ceritanya mirip dengan cerita St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, yang riwayatnya Beliau kenal.
Akhirnya Beliau mengatakan kepada Romo Pembimbing Rohani, kalau mau masuk menjadi Suster Karmel. Romo itu tertawa, Kamu kira bisa masuk? Sudah banyak yang antri masuk, kira-kira 17 orang.” Beliau diam saja. Waktu itu Beliau berusia 16 tahun. Beliau berserah kepada Tuhan. Ternyata Romo itu tidak tinggal diam.
Pada suatu hari Beliau
diajak oleh Romo ke rumah sakit, dimana Pimpinan Biara Karmelites dirawat.
Disana Romo memperkenalkan Beliau, kalau menjadi Suster Karmilites. Jawabannya
mengecewakan lagi,”Boneka ini mau menjadi Suster Karmelites?” Beliau mempunyai
keinginan/ keyakinan, Bahwa Beliau
sebagai Suster Karmilites dapat berbuat banyak untuk sesama dengan penyerahan
Beliau kepada Tuhan dalam doa dan kurban, daripada Beliau menjadi guru.
Kerasulan Beliau sebagai Suster Karmel akan meliputi seluruh dunia. Beliau
sangat kagum akan semangat Karmel dalam mengikuti Bunda Maria dan Nabi Elia.
Beliau sungguh menemukan kebahasiaan dalam Karmel. Dengan Kerasulan doa dan
kurban, Beliau merasa hidupnya tidak percuma. Tuhan dalam kebaikan-Nya sungguh
menerima persembahannya. Sr Immaculata adalah pekerja keras, teliti dalam
banyak hal, sangat liturgis. Tuhan tidak memanggil Beliau kemana-mana dan
Beliau sudah menjadi Karmelites di Batu. Selamat jalan Sr. M. Immaculata. Kami
semua ingin setia seperti Suster. Sub Tutela Matris
Website Rujukan; http://parokibatu.org/
Sr. Emmaculata Buettner lahir di desa kecil, di ujung negara bagian Bayern, Jerman. Beliau adalah anak pertama dari lima bersaudara, yang semuanya perempuan. Lahir dari pasangan Johann Buettner dan Kunigunda Wicklein. Waktu kelas VII, ditanya oleh Suster-suster “ Maria Ward” ( Englische Fraeulein), apakah mau menjadi suster. Pertanyaan yang diajukan para Suster ini membuatnya berpikir; dan memang adakeinginan untuk menjadi biarawati Akhirnya, kedua orang tuanya tidak keberatan. Sejak waktu itu, Beliau “yakin” bahwa sebagai calon Konggregasi itu. Pertengahan thn. 1947 seorang teman kelasnya waktu beristirahat bercerita penuh semangat: “Di Scluesselau, desa tidak terlalu jauh dari Bamberg, ada biara baru. Susternya tidak boleh keluar dan seterusnya....dst. Semula Beliau tenang-tenang saja karena sudah ada pilihan. Tetapi lama-lama Beliau tidak tenang, karena ceritanya mirip dengan cerita St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, yang riwayatnya Beliau kenal.
Akhirnya Beliau mengatakan kepada Romo Pembimbing Rohani, kalau mau masuk menjadi Suster Karmel. Romo itu tertawa, Kamu kira bisa masuk? Sudah banyak yang antri masuk, kira-kira 17 orang.” Beliau diam saja. Waktu itu Beliau berusia 16 tahun. Beliau berserah kepada Tuhan. Ternyata Romo itu tidak tinggal diam.
Website Rujukan; http://parokibatu.org/








Tidak ada komentar:
Posting Komentar