Rabu, 31 Agustus 2016

Pengalaman Hidup



Pengalaman hidup manusia sangat bervariatif dan tidak sama juga kehidupan saya sebagai penulis. Saya berani share karena ingin berbagi pengalaman kepada kaum muda, saya ingin mengatakan begitu kerasnya kehidupan ini. Saya menikah muda kurang lebih 21 tahun. Saya pada waktu itu mempunyai hati keras sudah diingatkan dengan emak “jangan menikah dulu kamu masih muda” akan tetapi perkataan orang tua tidak saya dengarkan. Saya terlalu emosi dan menganggap menikah itu menyenangkan dan bisa diatur dengan berjalannya waktu. Pada tahun 1998 saya menikah di Gereja Katolik Banyuwangi.
Setelah menikah kami bertempat tinggal di rumah mertua, namun rasanya kurang nyaman kemudian kami menumpang di rumah Mbah Nem di Dau Malang.  kurang lebih 8 bulan, Dan Pada tahun 1999 lahirlah anak laki-laki pertama dan kami beri nama Yohanes. Kehidupan kami sangat sederhana dan tidak mempunyai apa-apa. Suami bekerja di RSU di Malang sebagai perawat dengan gaji saat itu Rp 200.000,- dan bila sore membantu di klinik milik mertua. Bapak adalah seorang mantri kesehatan terkenal di Batu. Bapak memberi  uang saku pada suami Rp 50.000,- Dengan uang sebesar itu saya sangat hati-hati dalam membelanjakan apalagi Yohanes masih bayi memerlukan susu dan suami harus naik mikrolet pp Malang- Dau jaraknya kurang lebih 18 km. Untuk membagi uang saya siasati uang receh-receh saya sebar antara lain di bawah kasur. Bila tidak ada uang belanja saya ambil untuk membeli keperluan.
Pada bulan ke delapan kami pindah ke Sengkaling, menyewa kamar untuk kos selama 2 bulan. Atas kebaikan adik suami saya, kami diminta menempati rumah yang dia belinya di Junrejo Batu. Pada tahun 2003 lahirlah seorang anak laki-laki bernama Vinsensius A. Saya merawat kedua anak saya yang masih kecil-kecil sendiri dan fokus merawat anak-anak. Kedua anak ini sering sakit panas, batuk, pilek dan bergantian, bila sulung sakit gantian adiknya. Vinsensius ini bila panas tinggi sulit turun suhunya sering kejang atau kata dokter kejang demam dia beberapa kali ke rumah sakit rawat inap. Si bungsu sering sakit kejang demam kurang lebih sampai kelas 4 SD, setelah itu kejang demamnya sembuh. Bersyukur dia terselamatkan. Tinggi badannya tidak setinggi teman sebayanya karena mungkin sering sakit. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan bahwa Tuhan menyelamatkan Yohanes yang tenggelam di kolam ikan besar 5x6 meter kedalaman 2 meter airnya penuh.
Kami hidup apa adanya keadaan masih tetap, suami dibantu adik dan bapak dapat membeli motor secara mengangsur. Sangat membantu untuk transportasi dalam bekerja. Berpindahnya di Junrejo kami berada di Paroki Batu, wilayah lingkungan Beji, ketua lingkungan pada saat itu Bapak J dan mengajak untuk doa lingkungan dan latihan koor gereja. Lingkungan kami jaraknya berjauhan. Saya mengajak kedua anak, Saya menggendong Vinsen waktu itu masih bayi dan memegang tangan Yohanes waktu itu masih umur 4 tahun, kami jalan kaki jalan kaki. Kira-kira jauhnya dari rumah 2-3 km ke rumah Ibu M di Ngandat dan warga lingkungan Beji lainnya. Kami jauh dari gereja namun kami mengusahakan hari minggu untuk misa. Anak-anak sekolah di TK dan SDK Sang Timur dan ikut antar jemput mobil saudara.
Pada tahun 2006 kami pindah ke Jl Kelud Batu mendirikan rumah sendiri di tanah ibu. Kami bersyukur Tuhan memberikan kami tempat tinggal. Saya bersyukur anak-anak dekat dengan sekolah dan gereja. Waktu itu terpikir untuk saya bekerja agar dapat membantu ekonomi keluarga, membiayai anak-anak sekolah. Dan anak-anak juga sudah cukup besar untuk saya bekerja. Pada tahun 2007 saya bekerja di Margi Rahayu sebagai asisten bidan karena ijasah SPK saya sudah tidak laku sebagai perawat. Saya jalani keja shift untuk membantu bidan dalam melayani ibu melahirkan dan merawat bayi-bayi selama 3 tahun. Saya merasa dan melihat begitu kasihan anak-anak saya tinggal kerja pagi, siang dan malam.  
Pada tahun 2010 saya memutuskan untuk keluar dari  BKIA dan berpikir agar dapat membantu ekonomi dan melepaskan segala masalah keluarga untuk pergi ke luar negeri yaitu ke Hongkong, suami mengijinkan. Saya sekarang berpikir keputusan saya ke luar negeri kurang tepat. Sehingga anak-anak saya kurus dan kurang terawat. Namun itu terjadi dan bagian dari pengalaman hidup saya. Dan saya merasakan pertolongan dan kasih Tuhan sangat luar biasa.
Pertolongan Tuhan yang saya rasakan dengan waktu 4,5 bulan di Hongkong, Saya dapat melihat dan mempelajari budaya Hongkong, tanpa saya meminta melalui  tangan teman-teman yang tidak saya kenal saya memperoleh makanan dan minuman pada waktu libur dan selama berada di hongkong, Saya dapat melarikan diri sewaktu akan dibawa ke Negara Tiongkok, Tuhan mempertemukan saya dengan LSM PBB sehingga saya tidak dipenjara karena sudah over stay 3 hari, saya menang $ HK 2000 dalam mediasi hukum karena gaji yang seharusnya saya terima $HK4500 saya terima $ HK155 ini diberikan tidak sesuai dengan perjanjian dan libur tidak sesuai dengan perjanjian kontrak. Pada tahun 2010 saya dapat pulang ke Indonesia. Dengan bantuan SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia) dan BNP2TKI  saya dapat mengambil dokumen-dokumen penting dan asli termasuk ijasah yang ditahan dari PJTKI. Tuhan membawa saya kembali ke Indonesia dan mempertemukan saya dengan anak-anak, sehingga dapat memeluk anak-anak saya kembali. Tuhan membebaskan saya dari jeratan mafia perbudakan modern.
Sesampai kembali di Indonesia masalah keluarga juga masih ada seperti semula dan kehidupan ekonomi kami masih stagnan atau tetap. Saya berpikir bagaimana keluar dari kondisi seperti ini. Pada tahun 2011 saya menjadi broker properti dan sedikit demi sedikit mempunyai tabungan. Pada tahun 2012 saya berpikir dengan pendidikan akan mengubah semuanya kemudian saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Gajayana Malang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis/ Jurusan Manajemen. Dengan semangat saya kuliah pada tahun 2016 saya dapat lulus dengan predikat terpuji dengan IPK 3,84. Tahun 2016 ini saya melanjutkan S2-MM di universitas yang sama. Saya berpikir saya menempuh pendidikan bermodalkan semangat dan selanjutnya Tuhan yang mengatur. Dan saya tidak berhenti disitu perkenalan dan memasuki dunia pendidikan saya merasa membutuhkan pengetahuan yang lebih banyak lagi diantaranya mengikuti MOOC menjadi siswa Indonesiax. Saya juga belajar SEO (search  Engeenering Optimisme) di Akademi Webmaster Google. Keinginan saya menjadi akademisi, peneliti, penulis, konseptualis, analis statistik dan ahli pemasaran. Dengan keterbatasan saya ingin melanjutkan pendidikan doktoral. Smoga Tuhan mengirim malaikat manis-Nya membantu bea pendidikan untuk menggapai cita-cita saya.
Pada 2016 saya mencoba memperbaharui hidup saya cara hidup saya yang mantan negatif antaranya pecandu dunia maya terjerumus dalam harapan-harapan palsu dan melupakan kehidupan rohani antara lain jarang berdoa  dan ke gereja dan tidak bersosial. Kusadari saya telah bertobat. Puji Tuhan sekarang siraman rohani dan mengikuti misa di gereja adalah kebutuhan hidup  dasar saya. Dan mengabdikan hidup sebagai pelayan Tuhan menjadi anggota Paduan Suara Titus Bradsma  Gereja Gembala Baik Batu.
Dari pengalaman perjalanan hidup, saya ingin mengatakan kepada anak muda untuk mendengarkan perkataan dan menuruti nasehat dari orang tua dan tidak menikah di usia muda. Untuk tidak berpikir pergi ke luar negeri menjadi pekerja rumah tangga. Karena sesungguhnya di negera tercinta Indonesia kita bila kreaktif kita juga bisa menghasilkan karya yang bernilai jual. Berpikir jauh ke depan mengejar impian dengan melalui pendidikan mengembangkan talenta yang diberikan oleh Tuhan. Bila ada persoalan sebaiknya kita berpikir tenang dan menghadapi dan menyelesaikannya. Bahwa hidup ini keras dan tidak ada yang gratis semua memerlukan perjuangan. Perjuangan perlu pengorbanan dan proses, menjalani proses dengan semangat, suka cita dan berdoa. Mengutip dari homilRm Michael A, 2016, Tuhan melihat kita bukan saja hasil namun proses dalam menjalankan kehidupan. Nyatakanlah dan rasakan Tuhan sangat baik dan murah hati.

Titin Lestari Ningsih
Mahasiswa Pasca Sarjana
Program Stusi Magister Manajemen
Universitas Gajayana Malang
Jawa Timur Indonesia 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar